Advertisements
Connect with us

Business

CEO Brodo Indonesia Heran Biaya Ekspor lebih mahal dari Impor

Published

on

Chief Executive Officer (CEO) Brodo Indonesia, Yukka Harlanda mengatakan bahwa dirinya heran dengan mahalnya biaya kirim barang dari dalam ke luar negeri.

Yuka memberikan perbandingan tersebut di Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED), Nusa Dua, Bali. Ongkos kirim sebuah barang dari Malaysia ke Indonesia lebih murah dibanding Indonesia ke Malaysia.

“Saya sendiri memang belum fokus jual ekspor ya, tapi masih memetakan kalau mau ekspor kira-kira bagaimana. Jadi ada teman basisnya ecommerce juga dan industri fashion cewek, saya tanya mahal nggak ngirimnya? Berapa? Dia bilang, (ongkos kirim) dari Malaysia cuma Rp 30.000 terus saya cek dari Indonesia ke Malaysia itu Rp 200-300 ribu,” ungkapnya.

Di dalam kesempatan tersebut, Yuka mengatakan bila kondisi itu menjadi salah satu hambatan utama dari pelaku usaha Indonesia untuk gencarkan ekspor.

“Jadi kita mikir berkali-kali kalau mau ekspor strategi paling bagus gimana. Kalau kiya jual lebih murah dari sepatu yang ada di sana ya nggak dapat. Ya masa cost logistik jadi 40% harga kita kan nggak masuk” tukas dia.

Di dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Suahasil Nazara mengatakan bila fakta tersebut menjadi alasan kuat kenapa pemerintah gencar membangun infrastruktur.

Dengan adanya infrastruktur yang memadai, Indonesia dapat menurunkan biaya logistik yang pada akhirnya bisa meningkatkan daya saing industri di dalam negeri.

“Itu harus kita perbaiki makanya kita memperbaiki infrastruktur untuk menurunkan biaya logstik kita. Kita komunikasi, dan ini lintas sektoral memang,” ujar dia.

Advertisements
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Business

Ribuan Milenial Antre di Convention Center Santika Medan

Published

on

Pada hari ini, ada ribuan mileneal yang memadati Convention Center di Hotel Santika Medan, Sumatera Utara. Mereka bakal mengikuti acara Creativepreneur Event Creator.

Menurut pantauan dari Baca.news, peserta sudah memadati halaman depan hotel sejak pukul 09.00 WIB. Mereka terlihat sangat antusias mengantre untuk bisa masuk ke dalam tempat acara.

Adapun salah satu peserta, Azwar Anies sudah mengantre dari pagi, Ia mengaku sangat senang bisa mengikuti acara itu karena menghadirkan banyak pembicara.

Dengan adanya banyak pembicara dapat menambah informasi untuknya. Hal ini karena Ia merupakan seorang pengusaha.

“Pertama karena mau nambah ilmu tentang urusan kreatif usaha. Kan saya usaha pisang nugget juga,” tegasnya.

Ia juga mengharapkan untuk acara ini bisa membuka pikiran dari anak muda agar membuka banyak lapangan kerja ke depannya.

“Harapannya ke depan kita, milenial jadi mindset kita berubah dari kerja jadi memberikan pekerjaan. Supaya 2025 sudah boom kan umur-umur produktif bisa memberikan kontribusi,” terang dia.

Advertisements
Continue Reading

Business

E-Commerce Indonesia Paling Pesat di Asia Tenggara

Published

on

Indonesia diketahui tercatat sebagai negara dengan perkembangan e-commerce terbesar dan tercepat di Asia Tenggara.

Bermula dari indekos, ada 6 orang mulai menjalankan usaha Bukalapak. Tidak mengira kalau bisnis perdagangan elektronik ini justru bisa berkembang dengan sangat pesat hingga punya 1.500 pegawai dengan total 2,4 juta pedagang online di dalamnya.

Dalam 8 tahun, perusahaan ini berhasil mengembangkan sayapnya sampai dengan mencapai nilai pasar 1 miliar dolar AS atau setara dengan 14,2 triliun rupiah.

Ini bisa dibilang sejajar dengan perusahaan sekelas Indosat. Tren perdagangan elektronik pun meningkat. Belum terjamah Amazon, seperti layaknya di Eropa dan Amerika, persaingan telah sangat terasa di Indonesia.

Pasar ini juga diramaikan oleh Tokopedia, Lazada hingga Shopee. Perusahaan-perusahaan ini tentu punya cara tersendiri untuk bisa berkompetisi.

Shopee diketahui berbasis di Singapura, pemegang saham terbesarnya ialah Tencen, raksasa internet yang berasal dari China. Lazada juga berbasis di Singapura yang berada di bawah naungan Alibaba.

Sampai dengan September 2018 kemarin, menurut survei yang dirilis oleh Kata Data, Tokopedia dan Bukalapak masih menjadi penguasa pasar dengan 153 juta kunjungan dan 96 juta per-bulannya.

Advertisements
Continue Reading

Business

Dunia E-commerce Indonesia masih Mengkhawatirkan bagi Konsumen

Published

on

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menganggap bahwa dunia e-commerce Indonesia masih sangat mengkhawatirkan bagi konsumen.

Hal ini terbukti dengan banyaknya pengaduan transaksi e-commerce yang mencapai 30 aduan dari 500 aduan sejak bulan September 2017.

Ia menganggap bahwa kasus yang terjadi kepada konsumennya juga bermacam-macam, mulai dari transaksi travel sampai dengan pembelian barang di toko online.

“Bisa beli barang ataupun travel. Banyak juga yang menipu,” tukas Rolas Sitinjak, Wakil Ketua BPKN-RI.

Rolas juga sempat mengatakan beberapa nama e-commerce yang diduga punya kasus aduan konsumen, paling banyak berasal dari kasus transaksi travel.

“Yang paling banyak Traveloka karena sampai ada gugatan, kalau ada persoalan sampai harus ke Singapura,” ujarnya.

Tak cuma itu saja, ada juga nama marketplace jual-beli barang yang disebutkan olehnya. “Lazada dan Tokopedia juga ada, mungkin karena mereka besar jadi banyak masalah juga,” pungkasnya.

Rolas turut menceritakan bahwa pernah ada satu kasus penipuan yang aduannya sampai ke BPKN, bahka, kasus itu berhubungan dengan bea cukai.

“Ada satu kasus beli stroller bayi dilihat harganya murah, barang mahal harganya murah. Saat ditransfer uangnya barangnya mau dikirim, eh ditelpon bea cukai kalau barangnya nggak benar, ini modus penipuan,” tutup Rolas.

 

Advertisements
Continue Reading

Trending